DELEIGEVEN HISTORICULTURAM

HISTORY IS ONE OF THE BEST INFORMATION FOR OUR CURRENT & FUTURE

Translate

Tampilkan postingan dengan label Buku Sejarah (History Books). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Sejarah (History Books). Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2018

SEJARAH BATU BARA DARI MASA KE MASA




Negeri Batu Bara sudah ada setelah masa kebudayaan bercorak Hindu-Buddha berakhir di Sumatera. Berdirinya negeri Batu Bara bermula dari perburuan yang gagal dari seorang pangeran Minangkabau yang membawanya ke negeri Simalungun. Pangeran lalu menikahi putri raja Simalungun dan pindah ke wilayah pesisir yang memiliki banyak batu yang membara sehingga wilayah ini di sebut Batu Bara.

Negeri Batu Bara menjadi negeri yang sangat makmur sehingga menjadi incaran berbagai bangsa termasuk bangsa-bangsa Eropa. Sejarah melukiskan pasang-surut yang dialami negeri ini, mulai dari perang saudara masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan Revolusi Sosial di Sumatera Timur.

-------------------------------------------------------------------------------------------------



Buku ini memberikan data-data yang sangat berharga tentang sejarah klasik wilayah Batu Bara yang sangat sulit anda temui dalam buku-buku lain sebab banyak buku yang memuat sejarah Kesultanan Siak Sri Indrapura atau sejarah klasik kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur dan Utara yang berhubungan dengan Kedatuan-kedatuan di Batu Bara tapi tidak ada yang memuat sejarah wilayah Batu Bara sedetail buku ini. Melalui buku ini, anda akan memperoleh informasi berharga tentang sejarah Batu Bara sejak masa pemukiman yang pertama di wilayah ini hingga pemerintahan para penguasa di wilayah ini di masa-masa setelah dan bagaimana kedatuan-kedatuan ini runtuh, lengkap dengan tabel silsilah para penguasa kedatuan-kedatuan di Batu Bara. Tidak hanya kisah-kisah sejarah, buku ini juga memuat beberapa legenda dari wilayah Batu Bara ini.

Saya mendapatkan buku ini dalam sebuah pameran perpustakaan ketika saya mengunjungi stan milik "Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Batu Bara". Bangga sekali saya mendapatkan buku ini karena saya tahu buku ini tidak dijual sehingga sangat berharga bagi pecinta sejarah seperti saya. Tetapi, saya kemudian kecewa dengan isi buku ini. Kekurangan besar dari buku ini terletak pada alur dan susunan cerita yang tumpang-tindih, dan yang terutama adalah narasi. Sayang memang, data yang sudah dihimpun dengan susah-payah ini terganggu oleh narasi yang tidak teratur apalagi indah. Narasi yang tumpang-tindih ini justru membuat bingung saat saya menelusuri data-data yang disajikan oleh buku ini. Terlebih lagi, tidak ada pemisahan perikop saat membahas penguasa yang berbeda dari satu kedatuan. Semuanya digabungkan, dan kemudian diulang lagi di paragraf dan bab yang lain.

Perihal narasi buku ini, sangat sulit saya mengerti mengapa ada banyak sekali kecacatan yang berupa kesalahan penulisan dan pengulangan kata serta pengulangan penjelasan sebab saat saya menghitung jumlah editor umum buku ini ada enam orang, yang mana salah-satunya adalah seorang dosen Fakultas Sastra di salah-satu universitas negeri di provinsi Sumatera Utara.

Kekurangan kedua dari buku ini, yang tidak kalah besarnya dengan kecacatan dalam narasi, adalah tidak ada catatan kaki. Kita hanya tahu sang pangeran bernama Datuk Belambangan putra dari Raja Bujang dan cucu dari Raja Gamuyang, tapi tidak dijelaskan siapakah Raja Bujang dan Raja Gamuyang ini. Kita juga hanya diberi-tahu bahwa istri Datuk Belambangan bermarga Damanik dan beliau sendiri diberikan marga Sinaga, tetapi tidak dijelaskan perihal siapa nama ayah dari sang putri dan mengapa sang pangeran bisa diberikan marga Sinaga. Jika memang tidak tahu atau catatan sejarah tentang tokoh-tokoh itu tidak ada, juga tidak adanya referensi lain berupa opini dari para budayawan dan sejarawan maka minimal berilah ‘kode’ berupa catatan singkat: “data tentang beliau/tokoh ini sangat minim/belum ditemukan”

Sangat disayangkan karena kita tidak bisa menikmati kisah-kisah sejarah dan kepahlawanan para tokoh sejarah akibat narasi yang terus berulang dan membosankan. Anehnya, begitu meski sering sekali mengulangi penjelasan-penjelasan yang persisi sama tetapi justru abai membahas latar-belakang tokoh-tokoh sejarah yang mungkin hanya merupakan tokoh kecil namun keberadaannya justru sangat penting jika kita ingin merunut kembali sejarah wilayah ini.

-------------------------------------------------------------------------------------------------



INFORMASI BUKU

Buku “Sejarah Batu Bara Dari Masa Ke Masa” diterbitkan pada 2010 ketika Kabupaten Batu Bara baru 3 tahun berdiri menjadi kabupaten mandiri setelah dimekarkan dari Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara, pada 2007.

Buku ini diterbitkan tidak untuk dijual sebab peruntukannya adalah sebagai dokumentasi sejarah Kabupaten Batu Bara. Buku ini diberikan gratis pada masyarakat yang ingin mengetahui perihal sejarah klasik Kabupaten Batu Bara.


Judul: Sejarah Batu Bara Dari Masa Ke Masa
Bahasa: Bahasa Indonesia
Genre: Dokumentasi
Kategori Buku: Sejarah
Negara Asal: Indonesia
Penulis (Writer): Muhammad Yusuf Morna
Tim Penyusun: Anwardi, Muhammad Yusuf Morna, Nasrul, Azmi Saini Batubara, Sindi Amalia Aryetta
Editor: Isma Tantawi, Syofyan Alwi, Datuk Azmansyah, H.Mukhtar Tanjung, Basyaruddin, Lukman Hakim
Penerbit: Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Batu Bara
Diterbitkan di: Indonesia
Cetakan I: 2010 (tahun cetakan buku yang dibaca penulis resensi)
Ukuran dan Ketebalan: 17cm x 22,5cm, 253 Halaman
Jenis Sampul: Hard Cover
ISBN: 978-602-97395-0-3

_______________________________________________________________________________

Copyrights Artikel: Deleigeven Media
Copyrights Sinopsis: Deleigeven


PENYUSUN:
Penulis Resensi: Deleigeven
Penulis Sinopsis: Deleigeven
Informasi Penulis: Deleigeven
Informasi Buku: Deleigeven
Informasi Penerbit: Deleigeven
Penyunting: Juliet
Artikel ini diterbitkan pertama kali oleh: Deleigeven Media


SUMBER:
-id.wikipedia.com/kabupaten_asahan


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sabtu, 05 Mei 2018

GURU PETRUS KAFIAR




Petrus Kafiar adalah putra daerah Papua yang lahir sekitar tahun 1864 dengan nama Noseni. Beliau lahir di sebuah kampung kecil di bagian utara Pulau Supiori di Kepulauan Biak. Petrus kecil diculik oleh para perompak dari wilayah lain yang ironisnya adalah orang-orang dari sukunya sendiri, suku Biak. Oleh para penculiknya, Petrus kecil diperbudak selama bertahun-tahun. Tetapi, perjalanan hidupnya sebagai seorang budak ini justru membawanya menjadi putra Papua pertama dalam sejarah yang meraih gelar sarjana, dan menjadi guru Injil pertama dari Papua.

---------------------------------------------------------------------------------------------


Buku ini adalah cetakan ketiga (2008) dengan predikat “edisi yang disempurnakan”, tetapi saya justru lebih berharap dapat membaca langsung buku cetakan pertama (1959) yang ditulis langsung oleh F.J.S Rumainum tanpa editan dari generasi milenial.

Saya begitu bersemangat saat pertama kali melihat buku ini. Alasan pertama, saya adalah pengagum dari Petrus Kafiar, dan yang kedua adalah biografi lengkap beliau sangat sulit ditemukan. Jujur, buku ini adalah buku pertama yang fokus membahas tentang Petrus Kafiar yang pernah saya temukan. Saat saya melihat para penerbitnya, yang juga melibatkan pihak pemerintah daerah, saya semakin senang. Tetapi, perasaan senang yang melambung itu langsung jatuh seketika saat saya membaca buku ini. Intinya saya kecewa berat dengan kualitas buku biografi ini, jika masih bisa disebut sebagai buku biografi.

Saya mengagumi sang penulis buku, F.J.S Rumainum, yang adalah Ketua Sinode GKI yang pertama. Saya tahu cerita tentang beliau yang rajin berkelana ke kampung-kampung dan dusun-dusun kecil untuk melayani sebagai pendeta. Dengan susah payah, F.J.S Rumainum mencari data-data dan jejak-jejak para tokoh-tokoh gereja Papua yang nyaris terlupakan. Berkat kerja keras beliau lah orang-orang Papua sekarang ini masih bisa mendengar nama-nama yang berjasa besar bagi Papua dan gereja pra-kemerdekaan yang salah-satunya adalah Petrus Kafiar. Jika beliau tidak teliti, maka orang Papua hanya akan mengetahui nama Petrus Kafiar dan tidak pernah mengetahui nama lahir beliau, yang walaupun itu adalah data yang terlihat sepele tapi sangat penting karena dalam sejarah sebuah nama dari masa-lalu dapat memberitahu banyak hal, termasuk kapan orang ditempat itu bersentuhan dengan orang Eropa, kapan mereka mengenal agama dan sebagainya. Ketelitian F.J.S Rumainum dapat dilihat melalui penanggalan, kalimat pertama yang ditulis orang Papua pada masa itu, barang apa yang ditunjukan Petrus pada orang-orang Papua pada masa itu, dan sebagainya. Namun, kerja-keras F.J.S Rumainum dalam menyusun buku berharga tentang Petrus Kafiar ini diabaikan oleh generasi sekarang.

Anda akan membaca tulisan yang tidak jelas pembukaannya dan bagaimana kisah ini ditutup. Jika pembuka dan penutup sudah sulit disimak maka tentunya kita tidak bisa berharap banyak pada alurnya sebab semuanya kacau balau. Jika anda ingin mencari data tentang Petrus Kafiar dan pekabaran Injil di Pengunungan Arfak dan Kepulauan Biak maka buku ini memang adalah buku yang tepat sebab F.J.S Rumainum sangat teliti memberikan informasi dan menggambarkan apa yang dilakukan oleh Petrus Kafiar saat melayani di wilayah-wilayah tersebut. Namun, jika anda berharap dapat menikmati bacaan biografi tentang seorang tokoh besar yang kisahnya jarang ada maka anda akan kecewa dan pasti kecewa berat, sebab predikat “edisi yang disempurnakan” buku ini ibarat janji abadi para calon pejabat di negeri ini saat kampanye politik mereka: Hanya wacana! Bukannya menyempurnakan, malah merusak kerja-keras F.J.S Rumainum.

Saya sungguh-sungguh ingin sekali menikmati setiap detail informasi dari buku cetakan pertama. Andaikan, buku cetakan pertama karya langsung dari F.J.S Rumainum juga memiliki alur yang tidak menentu seperti buku cetakan ketiga ini, walaupun saya sangat menyangsikan seorang seperti F.J.S Rumainum akan menghasilkan karya demikian, tetapi saya masih bisa memakluminya sebab pada masa itu beliau menulis dan mengeditnya sendiri dengan peralatan, perlengkapan, dan tentunya dengan waktu dan dana yang sangat terbatas. Bandingkan pada masa sekarang, ketika semuanya sudah tersedia dan serba cepat, dengan pendanaan dari pemerintah dan gereja, juga disunting oleh tiga orang penyunting! Hhhhhh………... Saya bisa hanya menghela napas saat membolak-balik lembar demi lembar buku ini.

Kesimpulan yang bisa saya berikan perihal buku cetakan ketiga (edisi yang disempurnakan) ini adalah seraplah data-data dalam buku ini yang dihimpun dengan susah payah oleh F.J.S Rumainum, tetapi saya jamin anda tidak akan bisa menikmati kisah tokoh besar Petrus Kafiar yang sangat saya kagumi ini, bukan karena keterbatasan F.J.S Rumainum pada masa kolonial melainkan karena perasaan nyaman melakukan pengabaian-pengabaian juga pemeliharaan kinerja dan kerja ‘asal-jadi’ yang dilakukan tim penyusun “edisi yang disempunakan” di era milenial.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


TENTANG PENULIS

Buku “Guru Petrus Kafiar” adalah buku yang dikarang oleh tokoh gereja ternama asal Papua, Pendeta F.J.S Rumainum. Beliau adalah seorang Papua yang berasal dari suku Biak. F.J.S Rumainum menjabat sebagai Ketua Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua yang pertama (1956-1968). Jabatan sebagai seorang Ketua Sinode merupakan salah-satu jabatan yang sangat bergengsi di Papua pada masa sekarang. Namun pada masanya, GKI di Tanah Papua belumlah semapan sekarang, oleh karena itu seorang F.J.S Rumainum memiliki peran yang besar, terutama keberhasilan beliau menjadikan gereja-gereja di Papua yang dibawah naungan Zending menjadi sinode (persekutuan gereja wilayah) yang mandiri dan terpisah dari Gereja Protestan Maluku (sinode gereja Zending di Kepulauan Maluku). Beliau sudah menjadi pemimpin gereja di Papua sejak masa kolonial (Belanda dan Jepang) dan sangat rajin menjelajah seluruh pelosok Papua untuk memantau perkembangan GKI di Tanah Papua meskipun situasi yang dihadapinya sangat berat. Pada masa perjalanan inilah beliau menyusun buku “Guru Petrus Kafiar” yang data-data tertulis tentangnya sangat sulit, namun F.J.S Rumainum berhasil merangkum cerita-cerita tentang Petrus Kafiar berdasarkan ingatan orang tua-tua dan juga dari cerita turun-temurun tentang Petrus Kafiar yang dilestarikan. Mengumpulkan kisah tentang Petrus Kafiar sangat sulit sebab data-data tertulis yang ada hanya berasal dari laporan tahunan Zending dan daftar mahasiswa Seminari Depok, sedangkan informasi lisan sulit didapat karena Petrus telah meninggal pada 1926 ketika F.J.S Rumainum belum lahir, sedangkan untuk mewawancara keluarga Van Hasselt yang sangat dekat dengan Petrus sudah sangat sulit pada masa itu sebab mereka berada di Belanda dan pada masa itu situasi di Papua sedang tidak stabil akibat Perang Pasifik. Namun, F.J.S Rumainum tidak putus asa dan terus mengumpulkan data dan menyusun buku tentang Petrus. Berkat upaya dan kerja-keras F.J.S Rumainum, kisah tentang Petrus Kafiar dan perjuangan beliau menjadi guru mampu bertahan dan tidak hilang, sekaligus juga menjadi sumber tertulis tak terkira tentang sejarah tokoh-tokoh asli Papua pra-kemerdekaan.



INFORMASI BUKU

Judul asli buku ini adalah “Guru Petrus Kafiar” yang pertama kali diterbitkan pada 1958 ketika Papua belum bergabung dengan Republik Indonesia. Edisi sekarang ini adalah edisi yang disempurnakan yang disusun dan diterbitkan dalam rangka menyambut 100 tahun Pekabaran Injil di Supiori yang jatuh pada tahun 2008.

Buku ini diterbitkan untuk dijual dikalangan terbatas sehingga tidak ada di toko-toko buku ternama. Meski demikian, buku ini bisa dijumpai di toko-toko buku kecil di Papua karena memang buku ini dipasarkan untuk kalangan Kristen di Papua.

Judul: Guru Petrus Kafiar, Putra Papua Pertama Yang Menjadi Guru Penginjil
Judul Asli: Guru Petrus Kafiar
Negara Asal: Indonesia
Bahasa: Bahasa Indonesia
Kategori Buku: Biografi
Penulis: F.J.S Rumainum
Editor: Mecky Korwa; Barend Dimara.Pdt; Dirwan Pangaribuan
Penerbit: Panitia Pekabaran Injil 100 Tahun Emas di Supiori Cabang Manokwari; Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat; Yayasan Triton Papua dari Triton Media Group, Jakarta
Cetakan Pertama: 1959
Cetakan Kedua: 1966
Cetakan Yang Disempurnakan: Maret 2008 (tahun cetakan buku yang dibaca penulis resensi)
Ukuran: 15cm x 21cm
Jumlah Halaman: 117 halaman
Jenis Sampul: Soft Cover

Informasi Kontak Penerbit:
Triton Media Group
Alamat: Jl.Pondok Bambu Batas No.2A, Jakarta Timur
Telepon: (021)8611090, 98271209
Faks: (021)8611090

______________________________________________________________________________

Copyrights Article: Deleigeven Media
Copyrights Synopsis: Deleigeven

PENYUSUN:
Resensi: Deleigeven
Informasi Penulis: Deleigeven
Informasi Buku: Deleigeven
Informasi Penerbit: Deleigeven
Penyunting: Juliet
Artikel ini diterbitkan pertama kali oleh: Deleigeven Media

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Rabu, 25 April 2018

GREAT FOOD, GREAT STORIES FROM KOREA




Makanan Korea kini menjadi salah-satu hidangan populer di dunia. Selain dipopulerkan melalui berbagai drama seri dan film-film Korea, makanan-makanan Korea dikenal rendah kalori dan secara umum diakui sebagai makanan yang sehat.

Makanan-makanan yang melambangkan harmoni alam dan kehidupan sosial di Semenanjung Korea ini tidak hadir dalam sekejap melainkan memiliki sejarah yang panjang.

-------------------------------------------------------------------------------------------------



“Great Food, Great Story From Korea” adalah salah-satu buku kuliner yang paling saya sukai, bukan hanya karena gambar-gambar atau cara membuat makanan-makanan di dalam buku ini yang memang disajikan lengkap dan menarik melainkan keseluruhan komposisi buku ini. Narasi, data sejarah, gambar, penyusunan paragraf, bahkan catatan kaki, semuanya sempurna. Buku ini diterbitkan oleh organisasi kultural asal Korea Selatan sehingga sejak awal saya yakin bahwa buku ini tidak akan mengecewakan.

Walaupun kategori buku ini adalah buku kuliner, atau di Indonesia lebih diterjemahkan sebagai “buku masakan”, namun buku ini bukanlah tentang resep makanan melainkan tentang sejarah makanan-makanan Korea, tepat seperti judulnya, anda akan disuguhi oleh penjelasan-penjelasan tentang makanan Korea, cara penyajiannya, dan sejarahnya, meskipun rincian tentang bahan-bahan makanan juga ditulis. Bagi anda para pecinta makanan khususnya makanan Korea, maka buku ini akan memuaskan anda dengan berbagai gambar yang dilengkapi oleh penjelasan singkat tentang bahan dan cara membuatnya. Jika anda pengagum budaya tradisional, anda akan disajikan rangkuman budaya bangsa Korea mulai dari table manners dan tableware mereka hingga makanan-makanan yang baru muncul pada masa perang dan era kolonial yang semuanya dijelaskan melalui narasi yang rapih dan apik. Buku ini menjadi sumber berharga tentang table manners dan tableware Korea sehingga akan sangat membantu jika kita ingin mencari informasi perihal tata-cara makan formal Korea untuk kepentingan acara-acara Korea (khususnya jamuan makan) yang sifatnya resmi.

Buku ini membagi dan menjelaskan secara rinci riwayat berbagai jenis makanan Korea yang dimulai dengan berbagai jenis nasi dan bubur, berbagai jenis mi, sup, makanan tumisan, lalapan, kimchi, dan bahkan berbagai olahan gorengan Korea. Jika selama ini saya berpikir bahwa olahan kedelai berasal dari Tiongkok maka buku ini memberi informasi bahwa bangsa Korea lah yang pertama kali mengolah kedelai. Olahan Tauco awalnya berasal dari Korea, yang disebut Doenjang, yang kemudian dibawa ke Tiongkok oleh orang-orang Goguryeo. Orang-orang Goguryeo memang dikenal sebagai bangsa pengolah kedelai terbaik di dunia timur pada masanya.

Bagi anda para pecinta sejarah, rasa ingin tahu anda tentang sejarah makanan Korea akan benar-benar terpuaskan sekaligus memperkaya pengetahuan anda tentang riwayat cita-rasa dan kuliner Korea dari generasi ke generasi yang dilacak mulai dari Korea jaman sekarang, jaman perang Korea dan masa Pendudukan Jepang, masa Joseon dan Goryeo, dan bahkan era Goguryeo, Silla, dan Baekje. Bukan hanya militer atau teknologi saja yang mengalami modernisasi, makanan juga mengalami modernisasi. Perjalanan panjang bangsa Korea membuat makanan-makanan mereka menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Banyak makanan Korea yang lahir pada masa perang, seperti berbagai olahan dendeng daging, ikan kering, dan sebagainya yang sudah dikenal sejak perang-perang dimasa kuno sebelum era Tiga Kerajaan, juga Tetokpoki pedas dan Jokbal yang baru hadir pada masa-masa Perang Korea (1950an). Pendudukan Jepang juga memunculkan makanan-makanan baru, demikian juga dengan kedatangan tentara-tentara Amerika ke Semenanjung Korea yang membawa warna baru pada makanan-makanan Korea seperti pada pembuatan Budae Jjigae.

Buku menyampaikan maksudnya dengan baik:
Layaknya semua tokoh dalam drama-drama seri dan film Korea, setiap makanan memiliki kisahnya masing-masing.

-------------------------------------------------------------------------------------------------



TENTANG KOREAN FOOD FOUNDATION

Korean Food Foundation (KFF) adalah salah-satu organisasi kebudayaan milik swasta yang aktifitasnya khusus untuk memperkaya dan memperkenalkan kuliner Korea. KFF memiliki reputasi sebagai organisasi kebudayaan Korea yang kerap menemukan jenis-jenis kuliner baru yang memperkaya keberagaman makanan Korea. Organisasi ini juga kerap mengadakan riset tentang kuliner berupa penemuan kuliner baru, pencarian tentang jejak-jejak makanan Korea di luar Semenanjung Korea, dan penelitian sejarah makanan Korea. KFF berhasil melacak sejarah makanan Korea melalui berbagai literasi dari catatan-catatan pemerintahan masa kuno dan masa klasik dari berbagai bangsa yang pernah berhubungan dengan Korea sehingga mampu melacak jejak-jejak kulinari Korea hingga di masa yang paling tua dalam sejarah Korea yaitu masa Gojoseon.


INFORMASI BUKU

“Great Food, Great Story From Korea” adalah buku yang diterbitkan oleh KFF dan tidak untuk dijual, yang peruntukannya adalah memperkenalkan kuliner Korea khususnya kepada orang-orang non-Korea. Saya memperoleh buku ini dari salah-satu pusat kebudayaan Korea di Singapura oleh karena itu buku yang saya dapatkan ini masih dalam bahasa Inggris, tapi, saya yakin buku ini belum diterjemahkan ke bahasa lain, oleh karena itu jika menemukan buku ini di pusat kebudayaan atau acara kebudayaan Korea di Indonesia pasti juga dalam bahasa Inggris. Buku ini diedarkan atas dukungan dan kerja-sama dengan pemerintah Korea Selatan sehingga hanya ditemukan dipusat-pusat kebudayaan milik Korea Selatan diberbagai negara.

Judul: Great Food, Great Story From Korea
Negara Asal: Korea Selatan
Bahasa: Inggris
Bahasa Asli: Inggris
Genre: Dokumentasi
Kategori: Makanan
Penerbit: Korea Food Foundation, Seoul
Diterbitkan di: Korea Selatan
Desain: StoryBeen.com
Cetakan: Mei 2012 (tahun cetakan buku yang dibaca penulis resensi)
Ukuran dan Ketebalan: 11cm x 18cm, 234 halaman
Jenis Sampul: Soft Cover
GPRN: 11-1541000-001295-01

Informasi Kontak Penerbit
Korean Food Foundation
Alamat: aT Center 232, Yangjae-dong, Seocho-gu, Seoul, Korea Selatan
Website: www.hansik.org
Telepon: +821-2-6300-20-50-4

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Copyrights Article: Deleigeven Media
Copyrights Synopsis: Deleigeven


PENYUSUN:
Penulis Resensi: Deleigeven
Informasi Penulis: Deleigeven
Informasi Buku dan Penerbit: Deleigeven
Penyunting: Juliet
Artikel ini diterbitkan pertama kali oleh: Deleigeven Media